Mukaddimah

بســــــــــم الله الرّحمن الرّحيم

اشــهد أن لاا له الاّالله واشـهد أنّ محمّدارســول الله
الله غايــتناوالإخلا ص مبدؤنا والإصلاح سـبيلنا والمحبّة شـعارنا
نـعاهدالله على الصّدق والإخلا ص واليـقين وطلب رضى الله فى العمل بين عـباده بالتّوكّل عليه
بســــــــــم الله الرّحمن الرّحيم
بســــم الله – ولا حـول ولا قوّة إلآ­ با لله العلىّ العظيم
الله اكـبر

Karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala (S.w.t) telah dianugerahkan kepada manusia tanpa batas. Di antaranya nikmat taufiq dan hidayah. Taufiq merupakan nikmat Allah untuk memperoleh keridlaan dan hidayah-Nya. Adapun hidayah Allah hanya diberikan kepada manusia yang berlaku mujahadah (jihad).

Kesiapan mujahadah tersebut harus dibina melalui usaha tarbiyah dan da’wah dalam jalinan silaturrahim guna mewujudkan mu’amalah antara sesama manusia di atas prinsip-prinsiptauhidulLah, ta’aruf, musawah, musyawarah, ta’awun, ukhuwwah, tasamuh dan istiqamah.

Dengan prinsip-prinsip tersebut kita akan mampu membangun suatu jama’ah sebagaimana Rasulullah S.a.w membina dan membangun masyarakat Madinah al-Munawwarah. Ketika itu, ummat Islam merupakan komunitas Muslimin yang satu, komunitas Muslimin yang wasath, dan komunitas Muslimin yang terbaik sebagaimana disebutkan oleh Allah Swt di dalam al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad S.a.w.

Kini pun dan ke depan, hanya dengan kebersatuannya, dengan sikap wasathnya, dan dengan kerja-kerja dakwah terbaiknya, ummat Islam dipastikan akan menjadi pemimpin utama peradaban dunia sekaligus pencapai kebahagiaan di akhirat.

Ummat Islam sebagai khaira ummah dalam jalinan ummatan wahidah memikul kewajiban melaksanakan tarbiyah dan da’wah dalam rangka pelaksanaan amar ma’ruf nahyi munkar untuk terwujudnya baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur dan tercapainya ‘izzul islam wal muslimin (kejayaan Islam dan kaum Muslimin). Pelaksanaan tarbiyyah dan da’wah seyogyanya diselenggarakan secara bersama-sama sebagai amal jama’i dalam ikatan kejama’ahan yang kokoh yang diikat oleh tujuan dan cita-cita bersama untuk meraih mardlatillah.

Sejak didirikan sebagai Majlis al-’Ilmi pada 1911, organisasi atau jam’iyyah yang kemudian diberi nama Persatuan Ummat Islam (PUI) ini tak henti-hentinya melakukan upaya-upaya serius bagi terwujudnya persatuan ummat Islam. Untuk itu, sikap wasath di kalangan ummat harus dikedepankan, tanpa menafikan perbedaan yang bukan prinsip. Di tengah situasi kondusif ideal demikian, ummat pun dapat menjalankan kerja-kerja dakwah terbaiknya sehingga tampil sebagai ummat mulia dan terhormat.

Amal-amal jama’i PUI dijalankan bertolak dari tiga nilai-nilai dasar, yaitu keislaman, keindonesiaan dan kejuangan. Nilai-nilai dasar keislaman PUI terdiri dari Intisab serta tradisi keilmuan terutama di zaman keemasan Islam. Ikrar intisab PUI, yang memuat pernyataan komitmen kuat bahwa “Allah itu tujuan kami, keikhlasan sebagai prinsip kami, ishlah jalan perjuangan kami, dan mahabbah menjadi syiar kami,” senantiasa menjamin jam’iyyah PUI merupakan bagian tak terpisahkan dari gerakan dakwah para Salafus Salih dan Ahlus Sunnah Wal Jamaah.

Sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa Indonesia, jamaah PUI melaksanakan amal-amal jama’i dengan nilai-nilai dasar keindonesiaan yang terangkum di dalam Pancasila dan UUD 1945, undang-undang yang terkait serta peraturan perundang-undangan lainnya yang berlaku.
Adapun nilai-nilai dasar kejuangan PUI terangkum di dalam Ishlah al-Tsamaniyah (delapan perbaikan), melakukan pengabdian terbaik, pengorbanan tanpa pamrih, kerja keras tak kenal lelah, menjalankan jihad dalam pengertiannya yang luas, mempraktekkan ijtihad dan mujahadah, serta senantiasa ingat bahwa sasaran perjuangan kita adalah li ‘izzil Islam wal musliminsebagai rahmatan lil ‘alamin.
Share on Google Plus

Tentang HIJAR PUI PUSAT

Pengurus Pusat Himpunan Pelajar Persatuan Ummat Islam
    Google+ Comment
    Facebook Comment